Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 22

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 22by adminon.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 22The Bastian’s Holiday – Part 22 Chapter III Act IV THE TERAPIST By : Marucil Habibah PoV Jadi awalnya saya tidak pernak terpikir untuk mengambil jalan itu. Bahkan saya sendiri jijik melihat perempuan yang mau menjajahkan tubuhnya hanya demi uang. Saya berasal dari keluarga yang terbilang berkecukupan dikampung saya. Abah saya juragan beras yang terbilang […]

tumblr_n6y0n3BOY61txrs6go1_500 tumblr_n6y0n3BOY61txrs6go2_500 tumblr_n6y0n3BOY61txrs6go4_500 The Bastian’s Holiday – Part 22

Chapter III
Act IV
THE TERAPIST
By : Marucil

Habibah PoV
Jadi awalnya saya tidak pernak terpikir untuk mengambil jalan itu. Bahkan saya sendiri jijik melihat perempuan yang mau menjajahkan tubuhnya hanya demi uang. Saya berasal dari keluarga yang terbilang berkecukupan dikampung saya. Abah saya juragan beras yang terbilang cukup sukses didaerah saya. Lalu suatu hari saya mengenal laki- laki yang sekarang menjadi suami saya. Saya jatuh cinta sama dia karena ketampanannya, namun abah tidak merestui saya dekat dengan laki-laki itu. Karena Abah menganggap saya tidak punya masa depan bila menikah dengan laki-laki itu. Namun saya tetap menjalani hubungan itu secara diam – diam diluar sepengetahuan Abah.

Lalu tragedi itu terjadi. Saya Hamil dengan laki-laki itu. Abah marah besar terhadap saya. Namun akhirnya Abah terpaksa merestui hubungan saya dengan pacar saya. Kami menikah walaupun Abah tidak sepenuhnya merestui. Beberapa bulan sejak pernikahan , saya melahirkan anak pertama. Dari situ mulai terjadi sedikit permasalahan. Benar apa kata Abah suami saya tidak bisa menafkahi saya dan anak saya. Tapi saya yakin dengan suami saya, dengan bujukan saya dan Mertua saya akhirnya suami saya mendapat pekerjaan sebagai buruh disebuah Pabrik di Bekasi. Akhirnya suami saya memiliki penghasilan. Meski kecil namun mampu menafkahi saya dan anak pertama saya.

Dua tahun sejak kelahiran anak pertama, saya hamil anak kedua. Lalu ketika kelahiran anak kedua. Ekonomi keluarga saya mulai terguncang. Dimuai dari Penyakit Abah yang membutuhkan banyak biaya. Akhirnya demi mengobati penyakit Abah, Saya dan Umi menjual semua harta kekayaan yang kami miliki. Sawah, Toko dan semua perhiasan sudah habis terjual namun Abah tak kunjung memulih. Hingga akhirya ia meninggal dunia. Sejak saat itu kami sekeluarga jatuh pada jurang kemiskinan. Akhirnya kami memutuskan menjual rumah kami untuk membayar hutang – hutang. Dari sisa penjualan rumah itu kami membeli sebuah rumah yang kecil namun layak untuk dihuni oleh saya, kedua anak saya, Umi dan Adik saya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.

Tahun demi tahun kami jalani. Saya sebagai anak tertua banting tulang untuk mempertahankan keluarga ini. Suamiku memang masih memberikan nafkah kepadaku namun itu semua tak cukup. Hanya cukup untuk makan sehari – hari. Tidaklah cukup untuk keperluan yang jauh lebih besar. Akhirnya anakku mulai masuk ke bangku SD. Saya memutar otak kembali untuk mendapat uang agar bisa menyekolahkan anak saya. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Mencoba mengais Rupiah di kota dengan sejuta harapan ini. Kedua anaku saya tinggal bersama Umi. Untung mereka mengerti akan keadaan. Saya menangis karena harus meninggalkan kedua anakku. Saya tidak pernah tahu, apakah saya mampu membuat mereka bahagia.

Di Jakarta dengan modal informasi dari teman saya yang lebih dulu merantau dikota ini saya mencari kerja. Saya diterima bekerja di sebuh Café sebagai seorang pelayan. Memang bukan pekerjaan yang saya harapkan. Namun saya hanya lulusan SMA dan tak mampu untuk bekerja lebih dari ini, Akhirnya saya menekuni pekerjaan ini hingga akhirnya pemilik café menyukai hasil kerja saya. Saya banyak belajar ketika bekerja disini. Membuat kopi yang enak adalah kelebihan saya, sehingga para pengunjung café terkadang hanya mau memesan kopi apabila saya yang membuat. Setahun sejak saya bekerja di Café saya sudah mampu membelikan anak saya baju baru, buku baru dan segala perlengkapan sekolah lainya. Namun ketika anak kedua saya memasuki usia sekolah. Kebutuhan menjadi bertambah besar. Saya harus berjuang lagi, saya tidak mau kedua anak saya bernasip sama dengan Ibunya.

Gaji saya sebagai pelayan café ditambah gaji Suami saya sebagai Buruh Pabrik ternyata tidak cukup. Belum lagi saya juga harus menghidupi Umi yang telah lelah mengasuh kedua anak saya. Belakangan saya mengetahui bahwa Suami saya gemar menghamburkan uang untuk berjudi. Saya marah besar namun saya tidak bisa berbuat apa apa. Suatu hari ia berjanji akan berhenti bermain judi. Namun kebiasaannya itu sama sekali tidak menghilang darinya.

Lalu suatu hari saya ditawari seorang teman untuk bekerja disebuah Salon. Dia biang penghasilnya jauh melebihi penghasilan saya sebagai pelayan café. Akhirnya saya mengundurkan diri, dan memupuk tekad mengambil pekerjaan baru. Saya tidak tahu akan bekerja seperti apa disini. Namun kelamaan saya paham kenapa teman saya mengatakan bahwa penghasilan disini akan jauh lebih besar.

Disini saya harus melayani para hidung belang yang mengharapkan sentuhan sentuhan lembuat para pemijat disini. Ya, saya memang bekerja sebagai tukang pijat atau therapist, namun bila ada lelaki yang meminta pelayanan lebih saya harus mau memberikannya. Awalnya saya kaget ketika mengetahui bahwa ini adalah Salon plus 2. Namun ketika uang begitu mudahnya masuk kedalam kantong saya. Sayapun menikmati pekerjaan ini walau dalam hati saya menangis. Saya tidak mau kedua anak saya mengetahui pekerjaan sesungguhnya dari Ibu mereka. Saya menutup diri dan bahkan saya sudah jarang pulang kekampung. Hanya telpon dan uang yang bisa saya berikan kepada keluarga dirumah.

Saya mengerti uang yang saya peroleh adalah uang haram. Namun ini adalah jalan satu satunya saya bisa menghidupi keluarga saya. Suatu hari Suami saya mengetahui saya bekerja sebagai pemijat plus plus. Ia mengetahu itu dari salah seorang temannya yang kebetulan pernah berkunjung ditempat saya bekerja. Kami bertengkar karena itu. Namun akhirnya saya dan suami bersepakat. Saya diperbolehkan tetap bekerja sebagai therapist namun apabila ada pelanggan yang meminta lebih sebisa mungkin harus saya tolak. Saya menyanggupi syarat itu. Karena saya juga tidak mau kehilangan suami saya.

Namun ternyata saya tidak bisa melakukan kesepakatan itu. Saya sudah terlanjur menyukai pekerjaan ini. Bukan karena menghasilkan uang lebih banyak dengan cara cepat, tetapi saat para pelanggan itu mengharapkan untuk tidur dengan saya , itulah yang saya nikmati. Entah kenapa saya begitu menikmatinya, terebih ketika saya mengetahui bahwa pelanggan saya adalah lelaki beristri. Kenikmatannya jauh lebih besar ketimbang lelaki yang masih bujangan.

Di dunia ini saya lebih dikenal dengan sebutan Bibie, entah siapa yang memulai menyebt saya dengan panggilan itu. Namun saya menyukai nama itu. Saya tidak hanya menerima pelanggan dari dalam saja. Namun adakala seseorang yang membutuhkan saya untuk bertemu diluar. Saya menyanggupi bahkan uang yang saya peroleh jauh lebih besar karena tidak dipotong untuk mamih dan salon.
Namun akhirnya suami saya mengetahui bahwa saya masih tetap melayani nafsu birahi para pria hidung belang. Ia memaksaku berhenti atau dia akan memberitahukannya kepada Umi dan anak anakku. Akhirnya saya mengalah saya berhenti dari pekerjaan hina itu. Namun saya bingung hendak mencari nafkah dari mana sedangkan suami saya masih saja menghamburkan uangnya untuk berjudi. Akhirnya setahun lalu saya disarankan untuk masuk kesebuah penyalur tenaga pembantu. Sampai akhirnya saya bekerja sebagai seorang pembantu. Sampai sekarang

Kini saya bekerja dikediaman bapak Arga Wiguna dan Ibu Sulastri (Orang tua Bastian). Mereka menerima saya tidak hanya sebagai seorang pembantu, namun juga sebagai keluarga. Mereka sungguh baik, bahkan belum genap satu bulan saya bekerja saya diperbolehkan meminjang uang dengan jumlah yang besar. Saya beruntung bekerja di keluarga ini. dan mulai saat itu saya akan bekerja dengan penuh dedikasi dan berusaha melupakan dunia saya yang dahulu. Namun ternyata itu sulit. Belum genap satu bulan lalu saya ditawari untuk kembali kepada jalan hitam itu. Tadinya saya menolak namun akhirnya hati saya tergoyah. Saya kembali pada dunia itu dengan catatan hanya pada hari Sabtu dan Minggu. Saya beralasan kepada keluarga Pak Arga kalau hari Sabtu dan Minggu saya kembali ke kampong untuk menjenguk kedua anak saya.

Maafkan saya Pak Arga dan bu Lastri bukan maksud saya
membohongi dan merusak kepercayaan kalian.
Namun ini sudah menjadi jalan hidup saya.
Maafkan saya

Bastian PoV
Sungguh miris aku aku mendengar cerita dari Mba Habibah. Ternyata dia melakukan semua itu demi keluarganya. Aku tahu itu pahit, namun bagaimanapun itulah hidup kita tidak bisa menentukan mau berjalan dijalan putih atau dijalan hitam. Semuanya sudah diatur dan mungkin itulah jalan Mba Habibah. Ia terlihat sedih ketika menceritakan itu semua. Cukup lama ia bercerrita hingga tak sadar waktu terus berputar.

“Hmm, aku jadi terharu Mba mendengar cerita Mba tadi” sahutku menyapu mataku yang sedikit berkaca-kaca
“Halah sudahlah mas, lagian ini memang jalan hidup saya, jadi terserah Mas bastian mau menganggap saya wanita hina atau apapun itu keputusan mas, tapi boleh saya minta satu hal, mohon Mas Bastian jangan memberitahukan ini kepada bapak dan Ibu mas Bastian. Mereka sudah terlalu baik sama saya. Saya Paham saya telah membohongi mereka…” Sahut Mba Habibah.

“Aku ngerti kok Mba, dan aku akan rahasiain ini, asal Mba mau ngelakuin permintaan ku. Aku harap Mba jangan menerima lagi pelanggan kalau Mba masih dirumah. Kalau Mba sudah diluar si terserah Mba. Aku gak mau terjadi masalah dikemudian hari. Aku pikir mba ngerti maksud aku ini.” Kataku mencoba memita suatu hal darinya.

“Iya Mas, saya Janji besok besok saya gak akan menerima pelanggan lagi seperti kemarin sore….”jawab Mba Habibah.
“Hoaaaaaahhhhhhh” Aku menguap begitu lebar. Tak terasa cerita Mba habibah yang begitu panjang membuatku sangat mengantuk.
“Aduh cerita saya kepanjangan yah Mas, sampe ngantuk gituu…” Tanya Mba Habibah
“Iya nih Mba ngantuk banget, lumayan cape sih tadi pas Futsalan…” Jawabku sambil sedikit terkantuk-kantuk.

“Hmmm terus Mas Bastian jadi mau dipejetin?” Tanya Mba Habibah sambil membenahi alat pijatnya.
“Kayaknya besok aja deh Mba… lagian sebenernya aku gak pegel2 banget sih tadi Cuma pura2 biar Mama nyuru Mba mijitin aku, kan aku Cuma pengen Tanya hal itu ke Mba…” Jawabku jujur.
“Ohhh gitu, kalau gitu gak apa apa deh.”jawabnya sedikit nakal

“Eh tapi Mba, mulai sekarang kalau lagi gak ada Papa sama Mama, boleh gak kalau aku manggilnya Bibie aja, atau Miss Bibie gitu…”Tanyaku.
“Boleh kooook.., Mas Bastian boleh panggil saya apa saja. Apalagi kan mas Bastian Ganteng” jawabnya sedikit genit
“Ahh Bibie bisa ajaa…”

“Hooaahhhhh……” kembali aku menguap dan mataku semakin berat.
“Kalau Mas Bastian mau tidur, tidur aja Mas, tapi sebelum Mas Bastian tidur boleh gak saya kasih sesuatu biar tidur Mas Bastian nyenyak.” Kata Bibie
“Kasih Apaan Bie?” Jawabku sambil menjaga tubuhku yang sedikit lagi ambruk

“Udah Mas nikmatin aja yaahh, anggep saja ini hadiah dari saya” Ujarnya sambil mencoba melepaskan kaos yang aku kenakan

Aku hampir tidak sadar ketika Bibie melakukan semua itu karena memang mataku sudah sangat berat.Lalu tak terasa aku sudah berbaring diatas tempat tidurku, dan kulihat Bibie tengah meloloskan celana pendeku. Kini aku sudah telanjang bulat penisku yang sudah tertidur itu terpampang begitu saja. Namun akupun sadar dan mencoba menghentikan Bibie.

“Bibie, kamu mau ngapain?” Jawabku semakin lemas.
“Udah Mas Bastian nikmatin ajaa, kalau mau sambil tidur juga ngak apa kok” Jawabnya dengan nada suara yang begitu menggoda

Akhirnya aku biarkan saja Bibie melakukan semua itu. Tubuhku sudah sangat lemas, dan mata sudah begitu berat. Perlahan mataku mulai terpejam namun aku merasakan sesuatu yang basah menempel diputing susuku. Geli, basah nikmat. Hanya itu yang dapat kurasakan, kucoba dengan sekuat tenaga untuk membuka mataku kembali. Setelah berusaha membuka, kulihat Bibie sudah duduk diatas tubuhku namun mengambang. Ia tengah asik menjilati putingku dan sesekali ia gigit dengan giginya perlahan. Ia plintir putingku dengan bibirnya yang cukup tebal.
Ia masih mengenakan dasternya. Namun kini ia menurunkan dasternya sebatas pinggulnya. Ia segera meraih botol Minyak Zaitun lalu ia tumpahkan cukup banyak diatas dadaku. Hidungku langsung mencium wangi yang membuatku sedikit terjaga. Kini aku semakin bisa mengontrol rasa kantukku dan menikmati semua perlakuan Bibie kepadaku.

Setelah menumpahkan Minyak Zaitun diatas dadaku, ia segera melepas BH yang ia kenakan dan buah dadanya yang begitu besar kini dengan jelas kulihat. Ternyata jauh lebih besar ketimbang yang kulihat di foto. Tak sadar aku bertanya ukuranya dan ia menjawab ukurannya 36D. waw sungguh besar. Lalu kini ia telungkup diatas tubuhku, kurasakan penisku terganjal oleh Daster yang melingkar dipinggulnya. Bibie mendekatkan bibirnya ditelingaku dan ia berkata,

“Mas Bastian yang ganteng merem ajaaa… Malam ini bakal Bibie buat enak pokoknya, Biar tidur mas Bastian nyenyak…..” Bisiknya disusul dengan kecupan ditelingaku

Muachhh

Setelah itu ia meletakan Payudaranya yang begitu besar diatas dadaku yang sudah begitu licin oleh Minyak Zaitun. Perlahan ia menekan payudaranya hingga dadaku terasa sesak. Ia terus menggesekan payudaranya disekujur tubuhku,rasanya seperti payudaranya tengah memijat badanku yang lelah ini.Ia terus menggesekan payudaranya itu, gesekan tersebut membuat bagian selangkanganya ikut menggesek penisku yang kini perlahan mulai bangkit dan mengeras. Aku yakin Bibie menyadari hal itu.

“Ahhhhh…. Bibieee… enaaaak bieee…” Ceracauku sambil terus memejamkan mata.

Kini posisi tubuh Bibie semakin menurun kearah Pinggulku. Payudaranya terus mengelus perutku dan lidahnya yang begitu hangat terus menari diatas puting susuku dan seluruh permukaan kulitku. Kini ia menggapit penisku yang sudah dalam kondisi sempurna dengan kedua payudaranya yang besar. Panisku serasa tergencit oleh dua dinding yang begitu keras. Sungguh kenikmatan yang tiada tara.Kucoba membuka mataku lagi dan melihat apa yang tengah dilakukan oleh Bibie. Kini Bibi menggoyangkan tubuhnya maju mundur dan terus mengelus Penisku dengan Payudaranya. Lidahnya tidak berhenti meliuk – liuk, terus saja ia menyapu dan menghisap pusarku dengan ganasnya.

“Achhhh,… Bibieee.. kamu luarr biasaa. Achhhhhh” Ceracauku seraya memegang kepala Bibie dan meremas rambutnya perlahan.
“Mas Bastiaaan Syukaa…” Sahutnya sambil mengangkat wajahnya dan menghadapku.
“Sukaaa… achhhh”
“Kontol Mas Bastian juga enak koook, pas ditetenya Bibie… hihihi” Sahutnya begitu manja.
“Sejak tahu mas Bastian suka Coli, Bibi jadi makin penasaran sebenernya Mas, Cuma yah Bibie tahu diri, kan Bibie disini pembantu dan Mas Bastian Majinan”’ sahutnya semakin manja
“ahhh udah Mbaaa, gak usah dipikir, aahhhhh… enaaak Mbaaa susunya….” Desahku.
“kalau diginiin lebih enak Mas…” sahutnya sambil memundurkan tubuhnya

Bibie kembali menggepit Penisku dengan Payudaranya dan ia menahannya dengan kedua tanganya agar payudaranya terus menggencet penisku. Achhh. Bibie menggerakan tubuhnya keatas kebawah dan mengocok penisku dengan Payudaranya. Sesekali Lidah panasnya ia julurkan dan ia kenai di lubang kencingku. Payudara bak melon itu bergerak indah, beralun alun dengan putting yang begitu hitam besar dan mencuat. Ingin rasanya aku menggigitnya hingga putus namun tubuhku sudah tak mampu aku gerakan lagi.

“Achhhhhh”
“assssstttt”
“Ugrrrghhhh…..”

Kenikmatan yang begitu mengganda diberikan oleh Bibie sang Terapist sensasional. Sungguh enak sekali. Kulihat Bibie juga sedikit bernafsu. Ia semakin manja memainkan batang kemaluanku. Kini Penisku ia kocok dengan dengan kedua tanganya. Tak hanya dikocok, ia juga sedikit meremas dan menarik-narik Batangku sampai kurasa nyilu yang berujung kenikmatan. Terserah apa yang dilakukan oleh Bibie terhadap Penisku. Aku hanya bisa pasrah, yang jelas, rasa pegal karena terkena bola tadi siang sudah tak lagi kurasakan.
Puas mengocok penisku dengan sangat liar, Bibi langsung memasukan Penisku kedalam Mulutnya. Mulutnya membuka lebar dan kini penisku sudah masuk sepenuhnya hingga kurasakan ujung penisku menyentuh tenggorokannya.

“Slruuuuppp”
“Ohoorhhhhhgggg”
“Ssttttt”

Bebunyian yang terdengar erotis bercampur menjadi satu mewarnai kamarku malam ini. Bibie semakin dalam menghisap penisku dan benar seperti yang kubaca di FR kemarin hisapannya benar benar membuat penisku serasa hendak copot. Didalam mulutnya kurasakan lidahnya menari2 dan menyapu seluruh permukaan penisku. Ia memainkan juga ujung lidahnya tepat diatas lubang kencingku. Ia menggelitik dan semakin menggelitik. Tak hanya atangku yang ia permainkan, namun buah zakarku keduanya ia masukan satu persatu kedalam mulutnya.

“Ouccchhhh”
“Bibieeeee…. Enaaaak Bieeeee,, achhhhh akuu gak kuaat Bieeeee….”

Racauku begitu tak teratur, tapi aku tak peduli, toh dari luar tak sedikitpun terdengar. Kalaupun terdengar hanya suara dengungan saja. Kini aku merasakan penisku hendak memuntahkan laharnya. Namun Bibie tetap saja menghisapnya seolah setahun tidak diberi makan. Ia asyik bermain dengann buah zakarku sementara tanganya tetap mengocok penisku semakin kencang. Namun ketika terdengar desahan dariku ia sadar bahwa aku akan segara mencapai puncak. Lalu ia bergegas memasukan penisku lagi kedalam mulutnya dan mengisapnya dengan begitu kuat, Kulihat sampai kedua pipisnya kempis kedalam.

“achhhhh”

Kuhanya terlentang tak berdaya sementara bibie tetap berkuasa. Dan akhirnya yang dinantipun datang juga,

CROOOOTTTTT

CROOOOOTTTTT

Beberapa kali aku mutahkan spermaku tepat kedalam rongga mulutnya. Bibi semakin merapatkan mulutnya agar Air maniku tak ada yang meleh keluar. Saat Semburan terakhir kudengar hisapan panjang dibwah sana. Bibie menghisap seluruh air maniku dan menelannya tanpa sisa setetspun. Semakin ia menghisap air maniku semakin dalam juga batangku terhisap oleh kekuatannya.

“Achhhhhhh”
Achhhhhhhhhh
“eenaaaaaaaakkk mbaaaaa….achhhhhhh”

Perlahan lahan penisku mulai mengendur dan Bibipun melepaskanya dari dalam mulutnya. Mataku semakin berat setelah aku orgasme tadi dan kesadaranku mulai hilang. Yang dapat aku rasakan hanya Bibi sudah tidak berada lagi diatas tubuhku. Kubuka mataku sedikit dan melihat ia tengah merapihkan kembali dasternya. Lalu ia menarik selimut dan menutup tubuh telanjangku.
Ia mendekat kearahku dan berbisik dengan begitu manja..

“Selamat Bobo Mas Bastian, segitu dulu yaahhh besok besok dilanjutin kalau Mas Bastian gak ngantuk..”
Bisiknya disusul dengan ia meninggalkan kamarku. Kini aku seorang diri didalam Kamarku, menikmati sisa sisa kenikmatan yang telah diberikan oleh pembantuku

Author: 

Related Posts