Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 25

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 25by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 25Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 25 Chapter 18 : HUNTER AND PREY ———————– Hmmmm, meleset, dengan jarak sedekat itu dan meleset? Dia menembak di keramaian, itu sudah cukup bagus, laki-laki itu berkata dengan pelan. Huh, anak emasmu, kau selalu membelanya! Ini kesalahan pertamanya, dan walapun target tidak berhasil dihilangkan, […]

tumblr_nnm619e1nk1uoaovmo3_500 tumblr_nnm619e1nk1uoaovmo4_500 tumblr_nnm619e1nk1uoaovmo5_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 25

Chapter 18 : HUNTER AND PREY
———————–

Hmmmm, meleset, dengan jarak sedekat itu dan meleset?
Dia menembak di keramaian, itu sudah cukup bagus, laki-laki itu berkata dengan pelan.
Huh, anak emasmu, kau selalu membelanya!
Ini kesalahan pertamanya, dan walapun target tidak berhasil dihilangkan, semua barang bukti sudah berhasil dihanguskan, jawab sang lelaki dengan pelan.
Kau lupa, bukti digital, mudah digandakan dan disebarkan! sang wanita berkata tegas, dadanya yang besar naik turun dengan manja.
Sudahlah, sebaiknya tenaga dan mulutmu digunakan untuk yang lain saja, senyum mesum si lelaki terlihat.
Contohnya? tanya siwanita, walaupun pertanyaan itu tak perlu dijawab.

———————–
Lidya POV

Drrrtttt….drrrrtttt….drrrtttt

Drrrtttt….drrrrtttt….drrrtttt

Drrrtttt….drrrrtttt….drrrtttt

Ugghhhhhhtttt….,uahheeemmmm, gumamku.

Suara getaran dari handpone berhasil membangunkanku dari tidur yang cukup lelap.

Aku masih bisa merasakan kulit telanjang dan empuknya dua buah daging lunak di punggungku.

Payudara Lisa!

Dengan malas kulihat layar handphone.

Sebuah nomer yang tidak dikenal terlihat memanggilku.

Selamat malam, dengan Lidya bisa dibantu, sahutku.

Selamat malam, benar dengan nona Lidya? suara seorang wanita terdengar diujung sana.

Benar, dengan saya sendiri, ada apa ya mbak? tanyaku.

Saya dari RS Sari Husada, ada pasien bernama Andri Kusuma sekarang disini, apa anda mengenalnya? tanyanya lebih lanjut.

Andri Kusuma?

Andri!

Si-mata-keranjang!

Benar mbak, dia rekan saya? Kenapa mbak? tanyaku khawatir.

Berbagai pikiran negatif muncul dikepalaku.

Jangan-jangan…

Saudara Andri berada dirumah sakit sekarang, kami tidak menemukan nomer lain yang bisa dihubungi selain nomer mbak, tolong hubungi keluarganya mbak karena saudara Andri perlu dioperasi segera kata suara wanita tadi dengan tegas.

Operasi?

Ya tuhan!

Iya mbak, saya hubungi keluarganya dan kesana sekarang, kataku sambil menutup telepon.

Keringat dingin keluar dari pori-pori tubuhku.

Kuingat kata-kata Lisa tadi.

Hahaha, berani taruhan, Mas Andri pasti sekarang lagi tegangan tinggi, repot dah tu nyari penyalurannya, hihihi.

Gelombang rasa bersalah menerpaku.

Kenapa mbak? tanya Lisa yang juga terbangun.

Mas Andri dirumah sakit Lis, mbak mau kesana sekarang, jawabku sambil mengambil baju kaos dan celana panjang.

Aku ikut mbak, kata Lisa yang juga sedang mengenakan pakaiannya.

Aku mengambil telepon dan memutar nomer handphone Mas Frans.

Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif atatu berada diluar jangkauan

Aduh, nomernya tidak aktif lagi!

Kucoba menghubungi Mas Edy.

Tapi jawaban yang sama kembali terdengar.

Aduh, gimana ini Lis, Mas Frans atau Edy gak ada yang jawab telepon mbak, seruku kepada Lisa yang sekarang mengenakan jeans dan kaos, sama sepertiku.

Langsung aja ke rumah sakit dulu mbak, nanti kita telepon dari sana, saran Lisa sambil melangkah kepintu.

Ayo Lis, eh, tau dimana RS Sari Husada dimana?

Hmmmm,,,pake taksi aja mbak, saran Lisa.

Ayo Lis, ajakku.

Kami berjalan dengan tergesa kearah jalan. Untung ada taksi yang kebetulan lewat sehingga kami tidak perlu menunggu lama.

Ke rumah sakit Sari Husada pak, seruku kepada pak sopir.

Ngebut dikit pak,kataku ketika taksi dijalankan dengan pelan.

Entah mengapa, perasaan tidak enak terus mendera hatiku. Semoga Mas Andri baik-baik saja. Laju taksi terasa begitu lambat.

Dan sekarang bahkan berhenti!

Pak, kok berhenti? tanyaku tak sabar.

Macet mbak, kayaknya ada kecelakaan didepan mbak, terang pak sopir.

Aduhhhhh… Kenapa isi macet lagi?

Semoga si-mata-keranjang baik-baik saja.

Sepuluh menit kemudian kami sampai dirumah sakit. Sepuluh menit yang terasa satu jam.

Sambil berlari kecil aku berlari kebagian informasi.

Selamat malam mbak, ada yang bisa kami bantu? kata seorang suster.

Malam mbak, saya teman dari pasien yang bernama Andri Kusuma, dimana dia sekarang? tanyaku tak sabar.

Sebentar mbak, sahutnya sambil melihat layar komputer didepannya.

Saudara Andri sedang di ICU mbak, menunggu konfirmasi untuk operasi segera, ada anggota keluarganya mbak? tanyanya lebih lanjut.

Tadi saya coba hubungi tidak ada yang aktif mbak, jawabku.

Sebentar mbak, katanya sambil menelepon.

Tak kudengar apa yang dikatan suster itu, pikiranku penuh dengan pikiran tentang si-mata-keranjang. Semoga dia tidak apa-apa.

Mbak, mbak,

Kurasakan tepukan dipundakku.

Eh kenapa Lis? tanyaku bingung.

Ditanya sama mbak susternya mbak, kata Lisa sambil tersenyum.

Kenapa mbak? tanyaku.

Dokter bilang keadaan pasien semakin kritis. Kami akan segera melakukan operasi, tapi kami kekurangan darah golongan B, kalau bisa tolong carikan donornya mbak, terangnya.

Eh, saya golongan darah B mbak, bisa pakai darah saya saja?

Kebetulan kalau begitu, mari saya antar untuk cek kondisi mbak dulu, katanya.

Lis, coba hubungi keluarga Mas Andri dulu ya, dan juga hubungin Mas Frans dan Mas Edy, pintaku pada lisa.

Iya mbak, sahut Lisa.

Aku mengikuti langkah suster dengan pikiran hampa, mengingat keadaan si-mata-keranjang dan juga keadaan proyek kami yang terlihat berantakan sekarang.

Ujian yang berat.

Sangat berat.

Masih dengan keadaan yang bingung aku menyelesaikan donor darahku, suster memberitahu kalau operasi akan segera dimulai. Aku diberi tempat untuk beristirahat namun kutolak.

Dengan perasaan yang campur aduk aku menunggu diluar ruang operasi. Kulihat seorang wanita diujung tempat dudukku, wajahnya terlihat cemas.

Mungkin ada anggota keluarganya yang dioperasi, pikirku, karena rumah sakit ini mempunyai beberapa ruang operasi yang letaknya menjadi satu.

Semoga semua berjalan dengan lancar.

Semoga.

Satu jam.

Dua jam

Akhirnya setelah dua jam, dokter keluar dari ruangan operasi.

Dengan cepat aku mendekati dokter dan bertanya

Dokter, bagaimana hasilnya?
Operasi berjalan sukses, sekarang tinggal menunggu pasien sadar mbak, terangnya dengan sabar.

Boleh saya melihatnya pak? tanyaku dengan cemas.

Pasien akan dipindahkan dulu keruang ICU, nanti disana saja pacarnya dilihat mbak senyum pak dokter melihat kegelisahanku.

Bisa kurasakan wajahku memanas.

Oh iya, apa mbak sudah dihubungi polisi? tanyanya yang membuatku terkejut.

Polisi? Kenapa pak? tanyaku dengan terkejut.

Luka di badan pasien berasal dari peluru mbak, katanya, kali ini kulihat nada serius dalam ucapannya.

Dalam hal ini, pihak rumah sakit sudah menghubungi polisi, mungkin sebentar lagi akan tiba disini katanya.

Mungkin mbak bisa menyelesaikan administrasinya dulu saran pak dokter. Mari mbak, serunya sambil melangkah menjauh.

Iya pak, terimakasih pak, kataku sambil melangkah tempat administrasi. Tidak kulihat Lisa, mungkin dia menghubungi keluarga Mas Andri seperti
permintaanku.

Diruangan administrasi aku bertanya mengenai keadaan si-mata-keranjang.

Mbak, saya temannya Andri Kusuma, mau ngurus administrasinya mbak, kataku.

Iya mbak, ini semua detailnya, tolong tandatangan ditempat yang disediakan ya mbak, terangnya.

Kulihat sejenak berkas Mas Andri dan menandatanganinya.

Mbak, pasien ini siapa yang bawa kemari, tanyaku kepada suster.

Tadi ada ada beberapa orang yang datang kemari, satu wanita, sisanya lelaki, yang laki-laki sudah pulang semua, yang wanita ngurus pendaftarannya mbak, tadi saya lihat wanita itu masih didepan ruang operasi mbak, terangnya.

Terimakasih mbak, sahutku dan berjalan menuju ruang operasi.

Seorang wanita? Kuteringat wanita yang tadi duduk di ujung ruang tunggu.

Mungkinkah?

Tapi siapakah dia?

Jangan-jangan?

Dengan pikiran yang dipenuhi spekulasi aku menuju ruang operasi.

Wanita yang tadi masih duduk dalam diam disana, bisa kulihat rona kecemasan diwajahnya.

Siapakah dia?

Malam mbak, mbak yang tadi ngantar pasien didalam kesini ya? tanyaku sambil melihat dirinya.

Cantik dan seksi.

Mungkin usianya diantara 25 atau 30 tahun.

Dengan kemeja putih dan rok hitam yang mini, kakinya yang jenjang tertutupi stocking hitam yang seksi.

Tak sadar aku merasa iri dengan penampilannya yang terkesan matang.

Eh iya mbak, bagaimana kondisinya mbak? tanyanya dengan sedikit gelisah.

Gelisah?

Sudah membaik mbak, sekarang akan dipindahkan keruang ICU atau kalau kondisinya sudah membaik, akan dipindahkan ke kamar mbak terangku.

Oh iya, saya Lidya kataku sambil mengulurkan tangan.

Saya Nia, katanya. Mbak pacarnya Mas Andri? tanyanya menyelidik.

Wajahku kembali memanas.

Ini kali kedua malam ini dua orang menyangka aku pacar si-mata-keranjang.

Bukan mbak, saya partner bisnisnya,sahutku. Dengan ragu aku kemudian bertanya, Kalau mbak sendiri?

Eh, mbak, itu, saya, kulihat keragu-raguan diwajahnya.

Iya mbak?

Ehhmmm, saya bekerja di Bidadadari Massage mbak, jawabnya lirih.

Sejenak aku bingung dengan maksudnya.

Saya pemilik sekaligus terapis disana mbak, lanjutnya, kali ini keragu-raguannya menghilang.

Dan ketika aku mengerti maksudnya.

DASAR MATA KERANJANG! Teriakku dalam hati.

Mbak, kalau boleh saya mau pulang dulu, ganti pakaian, kalau mbak perlu bantuan atau nanti polisi perlu saya, hubungi saya disini mbak, katanya sambil menyerahkan kartu nama.

Baik mbak, jawabku sambil menerima kartu nama yang disodorkannya padaku.

Mari mbak, katanya sambil melangkah pergi.

Aku kembali keruang administrasi untuk menanyakan dimana si-mata-keranjang, apa sudah pindah keruang ICU apa belum.

Pasien masih di ruang ICU mbak, mungkin besok baru dipindahkan ke kamar kalau kondisinya sudah membaik, terang suster dengan ramah.

Boleh saya masuk mbak? tanyaku.

Boleh mbak, tapi cuma satu orang saja yang boleh masuk ya, jelasnya.

Iya mbak, terimakasih.

Dengan sedikit tenang aku menuju ruang ICU, disana si-mata-keranjang terbaring dengan jarum infus dan masker oksigen. Tubuhnya terlihat lemas dengan perban melingkari disekeliling tubuhnya.

Perlahan kudekati dia.

Wajahnya terlihat tenang dan tampan!

Terlihat dia masih belum sadar, mungkin pengaruh bius.

Tok..tok..tok…
Tok..tok..tok…

Samar bisa kudengar ketukan di pintu.

Kulihat Lisa berdiri didepan pintu dengan beberapa bungkusan ditangannya.

Mbak, makan dan ganti pakaian dulu, katanya dengan lembut.

Galang POV.

Lang, kau harus singgah, Marni masak besar hari ini, kata Herman.

Emang ada apa Her?

Rian ulangtahun hari ini, Marni buat syukuran kecil-kecilan, jawab Herman sambil fokus mengemudi.

Rian, anak Herman.

Kami masih didalam mobil sehabis pulang dari hotel tempat terbunuhnya Ade Mahendra.

Eh…, nanti aku malah ganggu, sahutku pelan.

Siapa bilang? Justru aku yang bakalan dimarahi Marni kalau tidak ngajak kau, kata Herman sambil memelankan mobilnya.

Kami sampai didepan rumah Herman, rumah yang bisa dibilang sederhana.

Sebuah tempat yang bisa dibilang rumah keduaku.

Kami turun dari mobil, kulihat Herman membawa sebuh bungkusan ditangannya.

Kapan dia membelinya?

Horeeeee, bapak sudah pulang! bisa kudengar teriak kegembiran Rian. Dia yang sekarang , kalau tidak salah, berusia 7 tahun. Terpisah cukup jauh dari kakaknya yang lahir 13 tahun lebih dulu.

Ehhh, ada om Galang, hadiahnya mana om? katanya dengan polos sambil menengadahkan tangannya didepanku.

Sudah-sudah, ini kado buatmu, Om Galang gak bawa kado, hanya bawa perut lapar yang minta diisi, hahaha, kata Herman yang membuatku malu.

Horeeee, kata Rian sambil berlari kedalam rumah.

Eh, ada Dik Galang, sini masuk, mbak banyak masak lo hari ini, suara seorang wanita keibuan memanggilku dari dalam, dia Marni istri Herman.

Iya mbak, sahutku sambil melangkah kedalam.

Sebuah rumah sederhana, dengan perabotan yang sederhana, namun, aura keramahan yang mempunyai rumah membuatku merasa betah disini.

Kecuali

Eh, Mas Galang, sudah lama mas? sapa seorang perempuan berumur kurang lebih 30 tahun dari balik tubuhku.

Baru saja Mir, sahutku sambil berbalik.

Seorang wanita yang sudah dewasa dan matang berdiri didepanku. Hanya dengan mengenakan sebuah daster yang walaupun membalut semua tubuhnya, namun cukup tipis, sehingga terbayang apa yang ada didalamnya. Sebagai lelaki normal kontan saja aku merasakan geliat samar dibawah sana.

Mirna.

Adik dari Marni, istri Herman. Sudah menikah namun suaminya meninggal karena kecelakaan. Dia tinggal dengan anaknya, Tasya, di rumah sebelah.

Namun kadang-kadang dia menginap disini, terutama ketika aku dan Herman sedang dinas keluar kota.

Dan Mirna serta Tasya lah yang membuat hari-hariku yang damai dirumah Herman menjadi kacau.

Kapan potong tumpengnya bu? protes Rian sambil cemberut. Tampaknya si bungsu sudah tak sabar ingin menikmati sajian yang disediakan ibunya.

Masih nunggu Tasya, sabar Rian, kata ibunya sambil mengusap-usap kepala Rian.

Tasya kemana si Mir? tanya kakaknya.

Masih berhias katanya Mir, biasa ABG jaman sekarang, malu katanya kalau kelihatan kucel, kata Mirna, sambil melirik pelan kearahku.

Lah?? Malu sama siapa? Tanya Herman bingung.

Malu sama dik Rian, hihihi, terdengar suara centil dari pintu, dan munculah Tasya, dan mau tak mau aku menelan ludah melihat penampilannya. Dengan kaos ketat yang membungkus payudaranya yang masih berkembang. Dan bawahannya, nawahannya memakai celana hotpants pendek yang memperlihatkan paha mulus tanpa cacatnya.
Ada om Galang juga, asyiikkkkk! seru Tasya sambil merangkulku dengan mesra.

Sejak kematian ayahnya, aku yang dianggapnya sebagai ayah.

Hal yang semakin sulit aku lakukan ketika Tasya beranjak dewasa dan matang.

Eh, Mbak Dessy kemana? tanya Tasya sambil mencari-cari kakak sepupunya.

Masih kuliah Sya, kata ibunya sambil menariknya dan menjewer telinga Tasya.

Pulang sana, ganti celana!perintah ibunya.

Ihhhh,,,ibu, apaaan siiii. Tasya kan dah gede, masa gak bole pake celana begini,uuuuufffhfhhhhh jawab Tasya sambil menarik tangan ibunya dari telinganya.

Lagian ibu juga pake baju tipis gitu, seru Tasya sambil berlari dan berlindung dibelakangku.

Udah-udah, biarin aja sekarang Mir, nanti kalau gak mau ganti, jangan kasi uang jajan aja, kata kakaknya sambil membawa tumpeng dari dapur ke meja makan.

Horeeee, potong tumpeng, seru Rian dengan gembira.

Ayo, sini kumpul semua, Kata Herman. Mengajak anggota keluarganya berkumpul dimeja makan. Terkadang aku iri dengan keadaaan anggota keluarganya yang selalau ramai dan akur.

Iri karena aku tidak punya sanak saudara sendiri.

Ayo Lang, ajak Herman. Sebelum potong tumpeng, kita berdoa dulu, berdoa mulai, kata Herman.

Berdoa selesai,

Sekarang nyanyi lagu selamat ulang tahun semua ya, kata Mbak Marni.

Selamat ulang tahun,
Kami ucapkan.
Selamat panjang umur!
Kita ‘kan doakan.
Selamat sejahtera, sehat sentosa!!
Selamat panjang umur
dan bahagia!
potong tumpengnya , potong tumpengnya
potong tumpengnya sekarang juga , sekarang juga , sekarang juga….

Yeeeee, teriak Rian ketika dia sudah memotong tumpengnya.

Potongan pertama diberikan kepada Herman.

Kemudian Marni membagikan piring dan sendok, dan akhirnya kami semua menikmati tumpeng yang lezat hari ini.

Kok tidak nunggu Desy om? Tanya Tasya kepada herman ketika kami menikmati nasi tumpeng.

Desy masih ada ujian sekarang, makanya tidak bisa ikut, terang Herman.

Wah, masakan tante makin enak aja nih, pantes aja om Her makin subur, hihihi, canda Tasya.

Hushhh, bukannya karena makanannya tu Sya, tapi karena sibuk malemnya, sahut ibunya sambil tertawa.

Kulihat wajah Mbak Marni sedikit memerah.

Hussshhhhh, Mir, kamu itu ngajarin anakmu yang gak bener! Sahut Herman.

Tapi bener juga sih, kebanyakan malamnya neh,hahhaha sambung Herman, yang sukses membuat pinggangnya dicubit oleh Mbak Marni.

Aduh, mas ini, ada anak kecil disini, kata Mbak Marni.

Aduh, ampun…ampunn…, sahut Herman.

Kring…kring..kring..
Kring…kring..kring..
Kring…kring..kring..

Nada dering handphone Herman yang disetting mirip dengan telepon terdengar.

Sambil melangkah keluar, Herman mengangkat teleponnya.

Om Galang nginep sekarang? tanya Tasya mengalihkan perhatianku.

Gak Sya, om bentar lagi pulang, jawabku.

Huhuhu, gak ada yang bacain cerita buat Tasya nanti, katanya dengan manja.

Aduh, udah gede gini masih mau dibacain cerita, sahutku dengan geli.

Huhuhu, apanya yang gede, dada aja masih rata gini om, jawabnya polos.

Husshhh, jangan ganggu Om Galang, kata ibunya.

Ihhhhh, mama sewot aja deh…., sahut Tasya dengan manja.

Sebelum aku menjawab, Herman masuk, terlihat ketegangan diwajahnya.

Lang, ada kasus penembakan, kita diminta menanganinya, katanya dengan tegas.

Kok? Kasus Ade belum selesai Her, jawabku sambil mengerutkan kening.

Ini ada hubungannya dengan kasus Ade Lang, sahutnya sambil menatap wajahku.

Siapa korbannya Her? kataku sambil bangkit dari dudukku.

Andri, CEO G-Team, sahutnya pelan

Author: 

Related Posts