Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 6

Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 6by adminon.Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 613 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 6 ===== 6th Sin : free day ===== . Pagi ini penelpon aneh itu tidak menghubungi, jadi sepulang gantian jaga dengan mama, aku mandi sebentar, lalu berdandan seadanya dan menuju ketempat temanku, mudah2an saja tokonya belum pindah karena sejak dirawat dipanti rehab, aku kehilangan kontak dengan semua […]

tumblr_nqlf90vyRX1u10ny7o4_1280 tumblr_nqlf90vyRX1u10ny7o5_1280 tumblr_nqlf90vyRX1u10ny7o6_128013 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 6

=====
6th Sin : free day
=====
.
Pagi ini penelpon aneh itu tidak menghubungi, jadi sepulang gantian jaga dengan mama, aku mandi sebentar, lalu berdandan seadanya dan menuju ketempat temanku, mudah2an saja tokonya belum pindah karena sejak dirawat dipanti rehab, aku kehilangan kontak dengan semua temanku.
.
Sekitar jam 10 aku sampai dimall pusat penjualan ponsel itu, naik kelantai 3, dan menuju ke tempat toko temanku..
.
Untunglah toko nya masih ditempat yang sama. “cari apa ci..” Tanya gadis penjaga itu
“ga, cuma mau ketemu Jonathan aja, ada ga?.” tanyaku..
“belum datang ci.. Tunggu aja mungkin sebentar lagi juga datang.” jawab gadis itu,
.
Sekitar 15menit kemudian Jo datang, setelah kujelaskan maksudku ia memeriksa jam itu.
“ini sebenarnya cuma handphone berbentuk jam, smartwatch, biasanya ada perangkat pendukung seperti headset bluetooth, bahkan kamera.. Lu ga nemuin barang lain?” tanya nya.
.
“ada sih anting dan kalung.. Emang antingnya modelnya agak aneh.. Tapi gua ga bawa,.” jawabku
.
“ya mungkin itu perangkat pendukungnya…” jelasnya sambil menyambungkan kabel dari pc nya ke jam itu.. “apa yang lu mau cari dari jam ini..?”
.
“gua juga ga tau Jo, tapi gua ngerasa aja kalo jam ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa ci Fany.!”..
.
“hanya ada 1 nomor yang pernah menghubungi kesini, tapi ada bekas transfer data yang sudah dihapus, ehmm mungkin masih bisa dibuka..!” Jo berkata sambil mengutak-atik komputernya, aku hanya terpaku memandang layar komputer itu.
.
“aha, dapat, hanya 2 file,..!”
.
“file apa ini Jo.?” Tanyaku ketika file pertama terbuka, dan layar menampilkar garis-garis berbentuk kotak.
.
“semacam sketsa atau blueprint bangunan gitu.. Bukannya cici lu kerja di asuransi, mungkin dia lagi urus asuransi gedung..!” jelas Jo beragumen.
.
“mungkin, coba file satunya Jo..!”
.
Dan ketika file kedua terbuka, ternyata datanya sejumlah nama dan jumlah uang..
“seperti data transfer..” gumanku..
.
“iya ini data transfer kebeberapa orang, lengkap dengan nomor dan nama rekening penerima dan tanggal transfer..” jawab Jo..
.
“wow..wow.. Lu liat nama-nama ini…!” tiba-tiba Jo berkata dengan terkejut.
.
“ini nama-nama pejabat dan politikus beberapa sering muncul di tv… Gawat Li jangan-jangan cici lu..!” Jo tidak meneruskan..
.
“apa Jo ?” tanyaku penasaran.
.
“ini bukti suap Li, jangan-jangan cici lu, karena tau tentang ini jadi seperti sekarang..!”
.
“dari awal gua juga ga terlalu percaya, kalo yang bikin ci Fany seperti sekarang itu mas Aldi, pasti ada hal lain…!”
.
“lu harus hati-hati Li, jangan kasih tau siapa-siapa dulu tentang hal ini…” saran Jo padaku.
.
“iya Jo thank’s ya,.”
.
Ini semakin terlihat aneh, jika karena data itu, kenapa mas Aldi mesti berbuat sekejam itu pada ci fany, aku harus mencari cara agar bisa menemui mas Aldi.
.
Siang itu, aku langsung ke kantor polisi, berharap bisa menemui mas Aldi, ternyata dia sudah tidak ditahan disana tapi sudah dipindah ke kejaksaan, untunglah penyidik yang menangani kasus nya, menyatakan mas Aldi bisa di jenguk, aku juga diberi surat untuk menjenguk “ijin untuk bisa menjenguk atau tidak, sepenuhnya ada dipihak kejaksaan, surat ini hanya sekedar rekomendasi saja, semogga bisa memudahkan ijin disana.” jelas penyidik itu…
“terimakasih pak..” jawabku.
“tapi ingat laporkan pada kami informasi apapun yang anda dapat.. dan bawalah makanan atau rokok seperti umumnya orang menjenguk tahanan..” saran penyidik itu lagi.
.
Kubeli nasi kotak dan beberapa bungkus rokok, seperti saran polisi tadi, aku sampai di kejaksaan itu sekitar jam 1 siang, setelah bertanya dan menjelaskan maksud tujuanku dibagian informasi, ternyata tempat penahanan mas Aldi berada digedung yang terpisah dari gedung utama, tapi masih dalam satu komplek, aku diberitahu untuk kegedung “D”, melewati lapangan berumput seperti lapangan bola, dari gedung utama, jalan masuk gedung ini terhalang pohon-pohon yang tertata rapi mengelilingi lapangan rumput itu…
“mau kemana bu?” tanya satpam didepan pintu gedung itu.
.
“mau besuk pak!” jawabku..
.
“lewat samping sana bu, nanti ada gerbang yang jaga disana..” jelas satpam itu menunjuk ke arah pintu basement.
.
“makasih pak..” jawabku sambil berlalu menuju tempat yang ditunjukan, basement dari gedung ini, ada dua petugas berseragam disana yang sedang duduk dibalik meja, menjaga pintu masuk berjeruji besi..
.
“tunggu sebentar ya bu, saya laporan dulu..” ucap salah satu pria yang berewokan dan bertubuh agak gemuk itu, diseragamnya tertera nama Sugiman. Ia berlalu masuk kedalam ruangan yang berdinding kaca itu, tampak ia menelpon, tak lama dengan masih nelpon, ia mengetuk kaca memberi kode pada temannya..
“mari bu, pemeriksaan dulu..” ajak pria yang tag name nya bertuliskan Sapto, aku pun mengikuti orang itu, masuk kesebuah ruangan yang didalamnya hanya ada meja dan duabuah kursi.
.
“saya periksa bawaannya dulu bu..!” katanya meminta tas dan kantong yang kubawa..
.
Saat pak Sapto, memerika, pak Giman masuk.. “gimana to.. ?” tanya
“bersih pak.!” jawabnya.
.
“lanjutkan..”
.
“maaf bu, tapi saya harus memeriksa badan ibu..” kata pak Sapto sambil menghampiriku.
.
“Apa.. saya ga mau,.. Apa-apa’an..” protesku.
.
“ini prosedur keamanan bu..” kata pak Giman. “kalau ibu menolak, kami tidak bisa memberi ijin..” lanjutnya.
.
“oke kalau begitu saya minta petugas wanita..” kataku.
.
“seperti yang ibu lihat disini hanya ada kami berdua. Jika ibu ingin petugas wanita, datanglah lagi besok.” pria gempal itu berkata penuh alasan..
Tidak ada pilihan lain jika harus menunggu besok aku takut penelpon aneh itu menghubungiku besok.
.
“Baiklah saya harus bagaimana?.. Tanyaku..
.
“kami harus menyentuh tubuh anda untuk melakukan pemeriksaan..” jelas Giman.
.
“ya sudah lakukan.!” kataku tak ada pilihan..
.
Pak Sapto mendekatiku, berdiri dibelakangku, “tangannya diangkat bu..” pintanya, aku angkat tanganku, ia mulai menyentuh pundakku dengan kedua tangannya, turun kebawah ketika, lalu maju kedepan menyentuh kedua payudaraku, dan bukan hanya menyentuh ia juga meremas, lalu turun keperut, kepantat dan selangkanganku, yang kembali juga diremasnya, lalu turun hingga ujungkaki..
.
“bagaimana sudah selesai.?” tanyaku.
.
“maaf bu sepertinya ibu harus melepas semua pakaian, kami tidak bisa seratus persen yakin dengan pemeriksaan tadi..” jawab Pak Sapto.
.
“apa, kalian mempermainkan saya..” protesku
.
“kami hanya menjalankan prosedur, bisa saja anda menyembunyikan barang terlarang dibalik bh atau celana dalam..!” jawabnya mulai kurang aja..
.
Tak ada gunanya juga aku berdebat dengan mereka, kubuka kaosku, juga celana panjang jeansku, “bh sama celana dalam juga.” perintah pak Giman, sambil berjalan kebelakang meja didepanku, dan akupun melepas dua kain penutup terakhir dibadanku itu., “puas..!” kataku pada mereka.
.
Tapi bukan jawaban yang kudapat Pak Sapto yang sejak tadi berdiri dibelakangku mendorong tubuhku ke meja. Aku yang tidak siap tak bisa mengelak, tubuhku tersungkur diatas meja itu. Dan pak Giman langsung memegang tanganku, aku tengkurap diatas meja tak berkutik, sementara kedua kaki masih dilantai, pak Sapto menekan pantatku, ” ini harus diperiksa, mungkin saja ada yang disembunyikan disini..” ucapnya sambil kurasakan sentuhan tangan kasar sedang membuka belahan pantatku..
.
“akkh.. Sakit lepaskan…ahh..”
teriakku ketika, lubang dianusku terasa dicolok oleh jemarinya. Aku berusaha melepaskan diri, meronta-ronta namun pegangan kuat dikedua lenganku menahan rontaanku dan yang ada aku malah kesakitan.
.
“lepaskan hentikan ahh,..” aku terus berteriak sementara pak Sapto mulai mengaduk lubang anusku dengan jarinya… “diamlah kau hanya menyakiti diri sendiri..” kata pak Giman sambil tetap memegang erat tanganku.
“bagaimana pak, ada yang disembunyikan disana..? Tanya nya pada pak Sapto.
.
“disini tak ada apa-apa pak Giman..!”
.
“coba lubang satu lagi pak…” teriak pak Giman ..
.
“akh..lepasin..tolong… Jangan ga mau.. Akh..” teriakku sambil terus meronta.
.
“percuma tidak akan ada yang mendengar teriakanmu.. Kau ingin ketemu si pembunuh itu kan, jadi diam dan menurutlah, maka akan kami biarkan kalian bertemu..! Ucap pak Giman sambil menjambak rambutku, dan mengangkat wajahku tepat kedepan wajahnya, “kau pasti salah satu lontenya si Aldi itu kan, aku tahu kalo dia suka piara lonte amoy seperti kamu..” lanjut pak Giman, sambil menjulurkan lidahnya menjilat wajahku.. “ehmmhh…” aku berusaha menghindari jilatan benda penuh liur itu.. “hahahahaha..” pria itu terbahak penuh kepuasan..
.
Sementara itu kurasakan pak Sapto sudah mengeluarkan jarinya dari anusku, dan menyusuri turun belahan pantatku, kearah celah diselangkanganku dan langsung menyeruak masuk.. “arrghh..” erangku..
.
“cari yang teliti pak Sapto hahahaha…” teriak pak Giman.
.
Kugerakan pantatku berharap jemari itu dikeluarkan dari celah kelaminku.. “plak..plak…plak.”
…”diam…” bentak pak Sapto sambil menampar kedua bokongku bergantian..
“ah..jangan.. Udah..” aku merintih memohon dihentikan, ketika kurasakan jumlah jari yang diselipkan dimemekku itu bertambah, dan mengorek serta sesekali mengocok kelaminku dengan sangat kasar..
.
“bagaimana pak..?” tanya pak Giman.
.
“susah dipastikan kan, sepertinya perlu alat khusus nih..!” jawab pak Sapto
.
“hahaha… Alat khusus berujung tumpul ya pak..!” timpal pak Giman..
.
Percuma juga pikirku terus meronta seperti, aku juga tak akan mampu berlari melawan mereka berdua, akhirnya aku diam dan membiarkan tubuhku dirabai mereka.
“Nah lebih baik seperti ini.. nikmati saja..” ujar pak Giman ketika aku sudah diam pasrah.
.
Pak Sapto mendorong tubuhku agar naik ke atas meja, aku telentang diatas meja itu, pak Sapto yang berdiri diantara kakiku, mulai melepas celananya dan langsung mengarahkan kontol gemuknya yang sudah mengacung tegak kebibir memekku, “waktunya pemeriksaan…” katanya sambil kedua tangannya membuka bibir kemaluanku dan dengan paksa kontolnya ditekan masuk… “akhh..” jeritku pelan, karena memekku masih belum basah sehingga terasa perih..
.
“wah pak Sapto ini, kesakitan tuh, dibasahi dulu lah memeknya…” ucap pak Giman,
.
“nanti juga basah sendiri pak, ga tahan liat nih, memek tembem banget.!” serunya sambil mendorong lebih dalam..
.
“akh..akh..” aku hanya bisa merintih ketika batangnya mulai bergerak menggesek dinding kelaminku, sementara tangannya menjulur menggapai kedua buah dadaku dan meremasinya.
.
“yang ini biar saya yang urus pak.!” ucap pak Giman yang tiba-tiba sudah naik kemeja, dalam kondisi bugil, ia berjongkok tepat diatas wajahku, duabuah biji yang mengantung dikemaluannya itu menempel dimuka ku, dan bergerak seperti mengusap keatas-kebawah, ketika tangan pemiliknya menggantikan tangan pak Sapto untuk meremasi dadaku.
.
“ehm.. Akh..emh..” erangku, birahiku mulai naik,
“emut biji gua..” pinta pak Giman menaruh kedua biji pelernya dimulutku, kubuka mulutku dan kumasukan salahsatu nya, untuk kukulum-kulum seperti mengulum permen.
.
“ah..ah.. Becek juga akhirnya nih memek akh..akh..” suara pak Sapto tersamar dengan dengusan nafas yang memburu.
.
“iya terus akh.. Emut biji gua.. Yah.. Yah.. Terruss akh…” pak Giman meracau menikmati servis mulutku pada kedua bola kembarnya, dan remasannya dipayudaraku juga semakin keras, ia menarik tubuhnya, berbalik dan menyodorkan kontolnya “sekarang sepong kontol gua..” katanya sambil mendorong batang kontolnya, memaksa masuk kemulutku..
.
“emmphh..” aku tak bisa apa2, dan kubiarkan mulutku dikontolin pria ini.. Kontolnya keluar masuk dimulutku, sesekali dibiarkan nya terbenam, dan langsung kuhisap kuat-kuat.. Selagi menservis kontol dengan mulut, aku juga tak lupa dengan kontol satunya yang sedang mengaduk lubang memekku, kuimbangi setiap sodokannya dengan gerakan menggoyang pinggul atau mengangkatnya seolah menyambut sodokannya..
.
“akh..akh.. Gila ah enak banget neh memek akh ah…” ucapanya..
.
“mulutnya juga enak banget pak.. Akhh.. Lonte mahal kaya nya nih pak… Akh..akh.,” sambung pak Giman yang juga terus memompa kontolnya dimulutku.
.
Aku tidak memperdulikan ocehan mereka, disamping aku juga sudah terangsang, aku pun ingin segera mengakhiri ini semua, kugoyang terus pantatku, dan gerakan dari kontol itu juga mulai terasa semakin cepat…
“ahk..ahkh..akh..” suaranya sambil tangannya mencengkram pahaku dengan sangat kuat “ahhh… Ngecerettt.. Guaa,.” teriaknya, dan terasa semburan maninya menyemprot didalam rongga memekku..
.
“gantian pak juga udah tahan nih ngerasain memek amoy..” ucap pak Giman yang langsung mencabut kontol nya dari mulutku dan memindahkan nya kememekku “bodo amat ah ada pejuhnya juga, ga tahan gua..” katanya dan langsung membenamkan batangnya kelubang memekku.
.
Pak Giman langsung bergerak maju mundur menggerakan kontolnya, kedua tangannya memegang pahaku yang tertekuk dan dibentangkannya.
“ah..ah.. Akh.. Gila ada ya l0nte yang masih sempit gini,..”ceracaunya. seperti yang kulakukan tadi, kali ini akupun menggerakan pantatku untuk menyambut setiap sodokannya, dan tanganku tanpa sadar meremas payudaraku sendiri.. “akh..akh.. Eah..ak..” aku mendesah terbawa birahi..
.
“kenapa.. Ah,ah.. Enak ya kontol gua..ah..ah..?” tanyanya sambil menyodok lebih kencang.
.
“ah..ah.. Iyah..ah..” gumanku dalam desahan…
.
Gerakannya semakin tak teratur, sementara aku juga mulai merasa akan segera sampai… “akh..ahk..akh.. Terusss.. paaa… Akh… Akh..” ucapku mengerang tak peduli..
Selang beberapa detik kemudian aku tak mampu bertahan lagi… “akhhhhh…” aku menjerit tertahan dihempas orgasme..
.
Pak Giman masih terus menggenjot beberapa kali sebelum kemudian ia mencabut kontolnya, dan naik keatas meja mengangkangiku, mengocok kontol nya yang belepotan sperma dan cairan memekku, tepat didepan mukaku.
.
“akhhh..makan nih pejuh gua…” teriaknya bersamaan dengan muncrat nya cairan kental putih itu dimulutku…
.
Ia bangkit dari atasku, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat mas Aldi sudah ada diruangan itu, rupanya tadi selesai mengerjaiku pak Sapto langsung menjemput mas Aldi..
.
“lian..!” suara mas Aldi dengan wajah yang tak kalah terkejutnya melihatku…
“bajingan kalian..” teriaknya berusaha menyerang pak Giman, tapi rupanya tangannya terborgol, pak Sapto langsung menghajarnya, begitu juga pak Giman.
“jangan..jangan tolong hentikan..” teriakku tanpa memperdulikan tubuhku yang masih bugil dan belepotan sperma.
Pak Sapto menarik mas Aldi, mendudukannya dikursi, melepas sebelah borgolnya dan memasangkan nya kegagang kursi..
“waktu kalian dua jam..” kata pak Giman, lalu mereka keluar, meninggalkan kami berdua.
.
“kamu ga apa, ngapain kamu kesini..? Tanyanya.
.
“aku ga apa mas,..” jawabku sambil melap wajahku yang masih belepotan sperma dengan celana dalam, karena ga mungkin dengan kaosku mau pakai apa nanti aku, setelah wajah, ku lap memekku.. Mas Aldi termenung memperhatikan..
“hehehe… Ga apa..” kataku melihat pandangan sayu nya, kutarik bangku satu lagi, dan duduk didepannya masih dengan bugil, toh dia juga sudah melihat semua pikirku.
.
“bagaimana fany..?tanyanya
.
“masih koma..”
.
“bukan aku yang melakukan itu..” katanya pelan.
.
“sebenarnya apa yang terjadi mas?” tanyaku.
.
“aku juga tidak mengira akan seperti ini jadinya, semua berawal dari tender proyek., aku dijanjikan akan memenangkan tender proyek pembangunan bandara, jika aku mau menyerahkan fany untuk dinikmati bos dan rekan-rekan kerjaku..” jelasnya.
.
“apa… Lalu mas menyanggupi…” potongku.
.
“aku sangat butuh proyek itu, aku gelap mata dan menyetujuinya, tapi sumpah itu cuma seks.. Li..”
.
“lalu kenapa bisa sampai terjadi seperti sekarang..?” tanyaku lagi
.
“pak Simon masih belum puas, ia ingin menikmati fany semalaman, lalu aku tidak tahu apa penyebabnya terjadi ribut-ribut, ketika aku masuk pak Simon sedang menenggelamkan fany dibathtub, aku panik reflek kuambil pisau buah dan kutikam pak Simon..!” jelasnya..
.
“kamu jahat mas, mas tahu pengorbanan ci Fany untuk mas..!”
.
“aku tahu Li, aku benar-benar bodoh…maafkan aku..!” ucapnya sambil menangis.
.
“kenapa mas mengarang cerita soal selingkuh, ga cerita sebenarnya ke polisi..?”
.
“karena kalau aku jujur, penelpon itu mengancam akan membunuh Fany..!” jawabnya.
.
“apa..? Penelpon.. Penelpon itu juga kah yang menjanjikan jika tender mas sukses, mas harus serahkan ci Fany untuk bosnya mas..?” tanyaku dengan terkejut.
.
” iya..!” jawabnya pelan..
.
“mas tahu siapa penelpon itu..?”
.
“aku ga tahu, tapi…” ia tampak ragu..
.
“tapi apa mas..?”
.
“itu bukan yang pertama, panti rehab tempat kamu dirawat juga berdasarkan pesan dari penelpon itu, aku dapat 50juta jika bisa memaksa fany merawat kamu disana…!” jelasnya.
.
“plak..plak..” emosi kutampar dia “keterlaluan kamu mas..” kataku.
.
“maaf aku li…” katanya lagi.
.
Semula aku berfikir akan menceritakan soal data yang kutemukan tadi siang, tapi mengetahui semua ini, kuurungkan niatku..
.
“aku curiga penelpon itu juga memberi perintah pada Fany..!” ucap mas Aldi lagi.
.
“maksud mas.?”
.
“sejak berhenti kerja ia bertingkah aneh, dan aku juga melihat bekas dia cek saldo di komputer, ada transfer uang dengan jumlah besar direkeningnya..” jawabnya
.
Aku semakin bingung dengan semua ini.. “apa cuma 2x mas mendapat telpon itu.?” tanyaku..
.
“iya..!” jawabnya.
.
“entah apa perasaan ci Fany, jika tahu semua ini…”kataku,
.
“aku benar-benar nyesel li..,”katanya ” kamu jual rumahku saja Li.. Gunakan buat biaya fany.. Surat-suratnya ada dibrankas paswordnya ulang tahun fany.. !” lanjutnya.
.
“rumah mama, sudah dijual untuk biaya ci Fany..”
.
“lalu kalian tinggal dimana.?’ tanya nya.
.
“kami mengontrak dekat rumah sakit..!” jawabku,
.
“kalau begitu kalian pindah saja kesana.. Maafin aku li..” katanya lagi, sambil menggenggam tanganku..
“sudahlah mas..!” kataku, sambil bangkit dan memakai pakaianku.. “aku pulang,..” pamitku.
.
“iya, jika Fany sudah sadar, tolong katakan aku sangat menyesal..” pesannya sebelum aku pergi.
.
~
seperti malam-malam sebelumnya aku tidur dirumah sakit menjaga ci Fany, tapi mama juga kali ini tidak pulang, entah kenapa ia diam saja sejak tadi…
.
“ayo ikut..” mama menarik tanganku “mau kemana ma.? Tanyaku kaget, tapi mama tidak menjawab, dia menarik ku keluar dari kamar ci Fany, membawaku ke taman rumah sakit..
.
“katakan darimana uang yang kemarin..? Tanyanya..
.
Akhirnya kujelaskan semua pada mama, mulai dari aku lari dari panti hingga pertemuanku dengan mas Aldi tadi siang.
“anak tolol, kenapa tidak ceritakan hal ini dari awal..” bentak mama..
.
“maafin Lian mah, tapi lian cuma ingin bantu biaya pengobatan cici, lian rela lakuin apapun demi cici..” kataku..
.
“bagaimana bisa seperti ini, kenapa mereka masih tidak melepaskan keluargaku,..” ucap mama geram..
.
“mereka siapa mah, maksud mama apa.. Mama tahu siapa penelpon itu.?” tanyaku..
Mama hanya diam menatapku..
“mah..” panggilku.
.
“anak bodoh kenapa kau melakukan semua ini,.” tanya kali ini dengan nada pelan..
.
“lian sayang cici, lian ingin bisa membalas semua yang udah cici buat untuk lian..”
.
“kamu ga iri, sama Fany..” tanya mama dengan mata berkaca-kaca.. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala.
.
” lian tahu, lian cuma bisa nyusahin keluarga, kalo dengan cara ini bisa menolong cici. Lian rela mah..” kataku..
.
“bodoh…”kata mama dan memelukku, inilah pertama kali aku merasakan pelukan mama, hal yang sekian lama sangat kuimpikan.
.
“kamu harus pergi, tinggalkan semua ini..pergi yang jauh!” kata mama.
.
” kenapa mah, lian ga mau, lian akan selesaikan semua permainan, lian akan dapat uang untuk biaya cici.!” kataku bingung.
.
Mama memegang wajahku menatapku tajam “permainan ini tidak akan pernah berakhir..” katanya.
.
“maksud mama.. Apa yang mama tahu tentang semua ini.?” tanyaku.
.
“mama pernah memainkannya.. Permainan yang tidak pernah bisa selesai, dan seolah menjadi kutukan dikeluarga kita….” jelasnya semakin membuatku bingung…
.
Ada apa dengan semua ini, apa yang mama maksud dengan kutukan..
.
bersambung ke :

*(7th SIN : the Past)

Author: 

Related Posts