Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Satu – Part 16

Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Satu – Part 16by adminon.Cerita Sex Awal dari Akhir Bagian Satu – Part 16Enam – Part 16 Bab IV Awal dari Akhir Bagian Satu Ma! Eh, kamu Bim, tumben ada disekolah liburan gini? Ngapain? Iseng aja, siapa tau ada yang harus di remed. Kenapa? Gak boleh? Boleh ko, masa gak boleh. Lagian, bisa ngeliat Ima kan? Hahahaha. Hmmm, mulai. Ya deh, becanda. Si Udin kesini gak? Ada yang […]

tumblr_nvf730x3t21u9ujjwo1_500 tumblr_nvggyoJQ8A1uqdx7jo1_540 tumblr_nvhxqmJOLZ1sij9l3o1_1280Enam – Part 16

Bab IV
Awal dari Akhir Bagian Satu

Ma!
Eh, kamu Bim, tumben ada disekolah liburan gini? Ngapain?
Iseng aja, siapa tau ada yang harus di remed. Kenapa? Gak boleh?
Boleh ko, masa gak boleh.
Lagian, bisa ngeliat Ima kan? Hahahaha.
Hmmm, mulai.
Ya deh, becanda. Si Udin kesini gak? Ada yang mau dia omongin katanya.
Owh, jadi ada janji ama Udin? Pantesan. Pasti soal esek-esek ya?
Ah Ima, udah cantik, pinter lagi. Liat dia gak?
Di kantin belakang, lagi ngobrol ama Gusti. Kasak kusuk dari tadi pas mereka ketemu. Gak tau ngomongin apa.
Oke. Saya kebelakang dulu. Kalo Ima kangen ato perlu sesuatu, just call me.
Idiih, sapa juga yang mau. Udah gih, sono.

===============
Gak, lo mau nyobain Yuni, cobain aja. Jangan bawa-bawa Lidya. Tawarin aja Icha sebagai gantinya, lagian, harus diakuin, Icha lebih enak dirasain dari pada Lidya.
Jadi maneh gak mau nyobaik Yuni. Yuni yang cantik itu?
Bukan gitu Din, siapapun setuju Yuni emang cantik. Tapi gue cinta mati ama Lidya, kemaren, kalo bukan dia yang minta, kagak bakalan gue jabanin. Lagian, belum tentu si Yuni itu mau. Jangankan Yuni, si Bima itu juga belum tentu mau.

Mau apaan? Bima tiba-tiba muncul. Ngapain kalian di sini? Ngobrolin naon? Ada apa Din maneh nge sms penting harus ada di sekolah. Wajib sewajib-wajibnya jam 10 pas.
Ah sia mah, jam 10 pas mah dua jam yang lalu. Udin menjawab. Hmm, gini Bim. Diuk heula.
Kemudian Bima duduk di pojokan tembok. Di atas batu bata merah yang ditumpuk.
Apaan?
Gini, lo yang ngomong Gus.
Ogah, lo yang punya ide, dan lo yang mau.
Okeh, gua yang ngomong. Udin terdiam beberapa saat kemudian mulai melanjutkan. Masih deket kamu ama Yuni Bim?
Hm, dibilang masih, masih, dibilang enggak, juga engga. Emang kenapa?
Hmmmmm …. kieu, mmmmm …

Rese lo Din, ham hem ham hem. Si Udin pengen maen ama Yuni, maen dalam artian daleeemmmm. Dan pengen barter ama si Icha, gila gak? Gusti yang tidak sabar langsung sewot. Dia benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Udin sampai keluar ide gila seperti itu.
Hahahahaha, edan maneh, jiga naon wae. Inget Din, inget. Kaya yang pernah aja maen tuker pasangan. Parah lah. Bima tertawa sekali lagi, kemudian hendak melanjutkan omongannya, namun terpotong oleh ucapan Udin.
Udah.

Hah, serius? Udah? Ama siapa?
Udin tidak langsung menjawab, matanya melirik ke Gusti, dan Gusti jelas-jelas melotot memandang Udin. Mengisyaratkan dia untuk diam.
Lidya? Ama Lidya? Bima menebak melihat kelakuan dua sahabatnya itu. Anjing, dan kalian gak ngajak-ngajak? Parah. Parah maraneh, harusnya kalian bilang. Udah gak nganggap?
Lah lu lagi Bim. Kemaren itu kecelakaan dan tidak diperhitungkan. Terus, lo sendiri udah pernah?
Pernah sih, waktu itu saya bawa Lia. Eh, serius ama Lidya? Dan Icha mantan kamu yang bahenol itu? Dan kalian gak ngajak-ngajak. Parah lah. Bima tetap protes. Dalam benaknya kini terbayang Lidya dan Icha yang digarap bergantian oleh Udin dan Gusti, ato bahkan di nikmati secara bersamaan. Terutama Icha, Lidya memang cantik. Menggoda. Tapi dia lebih tertarik dengan Icha. Perempuan tomboy satu itu memang sangat menggoda.

Nah, mangkana saya nanya, bisa gak ama Yuni. Gitu. Udin kembali bertanya ke Bima. Sebetulnya Udin masih ragu, dia tidak yakin Bima menyanggupi, lagipula, Yuni bukanlah kekasihnya Bima.
Hm, saya usahain, tar saya kabari maneh. Siapin aja si Icha. Ngomong-ngomong, lubang yang mana aja yang udah dicoba?
Pada gila kalian, parah abis, dan kalian manggil gue Betawi Edan. Lah kalian lebih Edan. Terutama lu Jawa. Pacar orang ditawarin juga.

===============
Revi melihat layar HP nya untuk yang kesekian kali. Sepi. Tidak ada Gio atau bahkan Rian. Apakah cukup sampai di sini petualangannya dengan Gio?

===============
Heh, udah pada omesnya kalian?
Eh lo Ma. Siapa juga yang omes, kalo si Udin emanag omes, gue sih murni kagak omes.
Haha, sama lo juga Gus. Eh, si Rian ko gak ada? Udin mengalihkan pembicaraan.
Gak ke sekolah dia hari ini, ada kencan dengan Atika. Sumpah, dikirain dia bakal jadian ama Revi. Dari dulu kan dia sukanya ama Revi.
Hm, iya, heran. Dia juga gak pernah bilang ke kita-kita, padahal biasanya dia bilang. Lo tau Bim, kalo Rian suka ama Revi.
Sebagai laki-laki pemerhati perempuan cantik, saya gak begitu paham dengan laki-laki Gus, apalagi si Rian, hahaha.
Ih, parah. Iya tau, Rian suka ama Revi. Padahal kan bagus kalo dua sahabat jadian. Kata Ima dan langsung diam. Dia lupa dengan Bima yang menyatakan cintanya padanya. Bima sendiri berpura-pura tidak tahu. Padahal, Gusti dan Udin pun sudah tahu akan hal ini.
Eh, Ima udah di jemput mas Gio. Yuk, pulang dulu.
Iya Ima cantiiiikkkkk. Kompak, ketiga sahabatnya itu menjawab. Kemudian mereka membubarkan diri. Tujuannya sudah pasti, Bima ke kelas Yuni. Gusti ke kostan Lidya. Dan Udin ke kantin. Percuma ke rumah Icha juga, lagi sama-sama di sekolah masing-masing.

===============
Motor Gio akhirnya sampai di tujuan, rumahnya. Sore ini dia ingin menikmati Ima seutuhnya, sukur-sukur kalo bisa dapetin perawannya. Tapi ide itu cepat-cepat ia tepiskan. Gio masih belum siap. Dia masih merasakan takut jika dia melewati batas.
Pada kemana Mas? Kok sepi. Komentar Ima ketika masuk ke rumah. Memang, rumah itu terlihat sepi, tidak seperti biasanya, karena di rumah itu selalu ada pembantu jika penghuni rumah lain tidak ada.

Si Bibi lagi pulang kampung. Yang lain seperti biasa.
Hmmm, ini mah sengaja ngajak Ima ke rumah kosong. Ckckckckck. Maun ngapain Ima Mas? Mau nelanjangin? Hehehehehehe.
Bisa jadi. Hahahaha. Udah ah, ke kamar yu, ada dvd baru.
Nah, apalagi ini maenannya kamar. Ckckckck. Mas ini, omes deh.
Sesampainya di kamar Gio, Ima menyimpan tasnya di lantai pojok ruangan. Gio sendiri langsung menyalakan TV dan DVD Playernya. Memasukan film yang baru kemarin dia beli. Film segera diputar, dan mereka duduk, lesehan, menikmati film.
Dan seperti biasa kalo lagi nonton berdua dan keadaan lagi sepi, Gio selalu bergerak duluan, dipeluknya Ima, kemudian dikecupnya kepala Ima yang menggunakan jilbab itu. Kembali nonton. Kemudian kembali mencium, lama kelamaan berganti, dari kepala, berubah ke telinga.
Ketika telinga yang di cium, Ima bergidik, geli. Hhhhhhhmmmm. Geli Mas.

Ma?
Hmmm?
Mas sayang Ima.
Ima juga sayang Mas. Dan bibir mereka kemudian bertemu. Saling melumat dan menggigit. Lidah mereka saling berpautan, terus mereka berciuman untuk beberapa menit sampai Gio memutuskana untuk melanjutkan ke tahap berikutnya dari permainan yang biasa mereka lakukan.
Tangan kanan Gio menemukan buah dada Ima. Meremasnya, meremasnya dengan gemas. Ima hanya bisa merintih dan mendesah menikmati permainan tangan Gio di dadanya. Tidak puas hanya meremas, Gio kemudian menciumnya, menggigitnya dari luar seragamnya. Gemas melihat gundukan dada di balik lambnag OSIS. Gio kemudian mencium leher Ima, masih dari luar jilbabnya. Membuat Ima tambah merintih dan mendesah.
Masssssssshhh.

Kini perlahan Gio membuka seragam Ima. Satu demi satu kancing seragamnya terlepas, namun dia tidak berhenti di situ. Setelah melapas seragam Ima, Gio juga membuka kaos dalam Ima. Kini tinggal BH yang menempel pada bagian atas Ima. Itupub tidaklah lama, karena dengan tidak sabar, Gio melepaskan kaitan BH Ima dan langsung melemparkan BH itu ke samping.
Kini Ima telah bertelanjang dada, putih, mulus, hingga beberapa urat nadinya jelas terlihat. Gio pung kemudian melepaskan kaos yang ia kenakan, kini mereka berdua telah bertelanjang dada. Sasaran Gio selanjutnya adalah rok seragam Ima. Tangannya bergerak ke arah belakang, menurunkan sleting rok Ima. Pada titik ini, biasanya Ima menolak, namun kini, dengan nafsu yang sudah di ubun-ubun, Ima diam saja, bibirnya masih menikmati lumatan bibir Gio, dan tangan Gio masih gemas meremasi dada Ima, memilin putingnya dan terus meremas.

Gio kemudian membaringkan Ima di lantai, ciumannya lalu turun ke arah dada Ima. Dilumatnya buah dada kanan Ima, dilijatinya puting Ima yang berwarna pink itu, dimainkannya lidah Gio mengelilingi puting Ima, dan dengan sekali lahap, dimasukannya buah dada kanan Ima dengan cara disedot sejadi-jadinya memasuki mulut Gio.
Hhhaaaaaahhhhhhhhhhh. Ah. Ahhhh. Seperti biasa, Ima hanya bisa merintih. Sampai sini Gio merasa kangen akan Revi, bagaimana reaksi Revi, desahan dan rintihan bahkan teriakannya jika dipermainkan demikian.
Ciuman Gio turun ke bawah. Perut rata Ima jadi sasaran, disapukannya lidah ke permukaan perut Ima, dimainkan di atas pusar Ima dan turun ke bawah. Sambil menjilati, Gio perlahan menurunkan rok seragam Ima, meloloskannya. Kini Ima hanya mengenakan CD warna putihnya saja, itu pun tidak lama, karena sasaran lidah Gio berikutnya adalah belahan vagina Ima. CD Ima sendiri kembali Gio lemparkan ke samping.
Berganti posisi, Gio duduk di depan selangkangan Ima, mengangkankan kedua kakinya.

Mas, mau ngapain?
Mau menikmati ini. Sehabis berkata itu, Gio mendekatkan kepalanya ke vagina Ima, dan mulai menjilatnya.
Aaahhhhhh, Massssss, sssssshhhhhhhhhh, ahh … iya, enak banget, diapain, ahhhh, Mas. Geli. Desahan dan rintihan Gio menambah semangatnya untuk terus memainkan lidahnya di lubang kemaluan Ima, menjilatinya, dan memainkan klitrisnya, sampai banyak sekali cairan vagina yang keluar. Semua tidak dipedulikan oleh Gio, dia benar-benar melahap semuanya. Bibir vagina Ima sudah merekah, seolah siap untuk serangan yang lebih dahsyat, namun Gio tetap bermain dengan lidah, sesekali jari tangannya ikut membantu merangsang setiap titik pada vagina Ima. Terus, sampai Ima mendapatkan orgasme pertamanya, tubuhnya melengking ke belakang, sambil menjambak rambut Gio dan menekenkan kuat-kuat kepala Gio ke vaginanya.
Maas, keluarrrrrrrrrrrrrrrrr.

Gelagapan karena ditekan dan dijambak, Gio mengangkat kepalanya, tersenyum melihat kekasihnya yang sudah mencapai puncak. Badan Ima terutama wajahnya berubah merah, jilbabnya sudah acak-acakan. Keringat membasahi tubuhnya yang putih mulus itu. Melihat ini Gio menjadi semakin bernafsu. Dia kemudian membuka celananya sendiri. Penisnya sudah tegang sejadi-jadinya. Penisnya dia dekatkan ke buah dada Ima, idenya adalah breast fuck, dia meminta Ima untuk mendorong buah dadanya satu sama lain, hingga penisnya bisa menikmati daging kenyal itu, beberapa saat Gio memaju mundurkan pinggulnya, lalu berhenti. Dia mengambil bantal, menyimpannya di bawah kepala Ima. Kemudian melakukan lagi breast fuck. Kali ini lebih asik, karena dengan posisi kepala Ima yang menekuk, dia bisa sambil memasukan penis besarnya itu ke dalam mulut Ima.
Dibenaknya terlintas sebuah pikiran, kenapa waktu itu tidak mencoba seperti ini dengan Revi menggunakan bantal. Dengan ukuran buah dada Revi yang lebih besar pasti akan lebih asik.

Limamenitan Gio melakukan hal ini, akhirnya dia berhenti, turun, menempelkan kepala penisnya di belahan vagina Ima, kemudian menggesek-gesekannya.
Ahhh, hhhhaahh, mmmm, sssss, Massss, aaaaahhhh, aaaaaaaaaaakkkhhhhhhhhhh. Enak banget Mas, ah, diapain sih? Ahhhhhhhh, akh, gila, udah mau keluar lagiii, ah.
Kembali menegang, namun kali ini tidak sekuat yang pertama. Ima kembali orgasme.
Loh, cepet banget Ma?
Gak tau, hah, hah, Ima juga gak tau, abissss geli bangeth Mas. Jawab Ima masih ngos-ngosan. Gio ingin melakukan hal yang sama, namun ia urungkat niatnya. Dia kemudian mengankat Ima duduk, dia sendiri berbaring di sebelah Ima.
Cape gak Ma?
Gak begitu, cuman butuh rehat semenit.
Hehehe, kuat berarti, udah, naik. Gio memposisikan Ima diatasnya, dengan vaginanya pas menindih penisnya, dia meminta Ima untuk bergerak maju mundur, dengan vagina Ima yang sudah basah ini menjadi mudah.
Hehh, ahhh, iya, gitu Ma, enak.
Berat Mas? Ah, sakittt ah, gak?
Engga. Terus.

Mencoba gaya ini beberapa saat, Gio kurang puas. Dia meminta Ima berhenti sebentar, kemudian menekukan penisnya ke atas, menempel di perutnya. Lalu kembali Ima melakukan gerakan yang sama, memaju-mundurkan pinggulnya sambil menekan pula.
Awas masuk Ma.
Hah, ahh, iya.
Namun Gio hanya merasa nikmat tanpa ada tanda-tanda akan orgasme, Ima sendiri malah wajahnya semakin merah, nafsunya sudah diubun-ubun, gerakannya sudah liar sekali, Gio merasa penisnya seperti diulek di bawa sana. Dan memang akhirnya kembali orgasme, kali ini cairannya banyak sekali membanjiri hingga ke perut Gio. Kemudian Ima yang sudah tidak kuat lagi menidurkan dirinya di samping Gio.

Mas belum keluar ya? Dengan nafas berat yang meburu Ima bertanya.
Belum. Nyantey aja, masih banyak waktu.
Mau dimasukin?
Huh? Dimasukin ke mana? Ke mulut? Ntar aja deh, kasian kamu Ma, ngos-ngosan gitu.
Bukan ke mulut. Ke itunya Ima?
Hah? Yakin kamu Ma? Entar kamu gak perawan lagi.
Ima tersenyum, lalu menjawab Selama Mas janji untuk terus setia dan ada di sisi Ima mah gak apa-apa ko Mas.

Merenung lama, akhirnya Gio bangkit, matanya bertemu mata Ima, ada kepasrahan di sana. Akhirnya Gio memutuskan untuk terus. Ima adalah perempuan yang paling cantik dan baik yang menjadi kekasihnya, dia tidak akan menyesal.
Kemudian perlahan Gio menuntun penisnya ke arah lubang vagina Ima. Perlahan ia mulai mendorong. Keadaan vagina Ima yang sudah sangat basah, bahkan becek, membuat hal ini lebih mudah.

Perlahan, sedikit-demi sedikit, Gio mulai memasukan penisnya.
Aaaahhhhh, Massssss. Pelan-pelannnnnnnnnnnnn, akh, sakit, aaaakhhhh. Ima mulai merintih dan menangis. Penis besar itu semakin dalam menembus pertahanan vagina Ima, sampai akhirnya, Aaaaaaaaaaaaaaaaaa. Ima berteriak, ketika dengan bernafsunya Gio memasukan sisa penisnya.
Mereka saling berpelukan, peluh membanjiri kedua insan yang sedang dimabuk nafsu birahi ini. Gio kemudian menatap mata Ima, Ima hanya mampu memejamkan mata, air matanya meleleh disudut mata. Wajahnya menunjukan rasa sakit. Jilbabnya sendiri sudah awut-awutan, rambutnya yang hitam sudah nongol disana-sini.
Gio kemudian mulai, dia memaju-mundurkan pinggulnya, pelan, karena setiap gerakan yang ia buat, setiap kali pula Ima merintih kesakitan. Setelah beberapa saat, rintihan kesakitan itu berkurang, berganti dengan rintihan dan desahan kenikmatan yang biasa Gio dengar, karenanya, Gio mengganti genjotan pelannya dengan lebih cepat.

Massss, enak banget… sakiittt. Tapi enak, ah, iya Massss, terus, entotin Imaaaa, aaaahhhhhhhhh. Ima kembali orgasme, badannya menekuk ke depan, urat di lehernya terlihat keluar, Gio gemas melihat ini, dia kemudian meremas ke dua buah dada Ima dengan kedua tangannya, menambah kenikmatab orgasme yang Ima rasakan. Hanya sebentar dia meremas buah dada itu, karena walaupun Ima masih merasakan gelombang itu, Gio pun ingin merasakan hal yang sama, dia kembali menggenjot dengan kecepatan tinggi.

Hah hah hah, aaaah, enak Ma?
Enakk bangeth Mas. Lemessssss…… cepet keluarin.
Bentar lagi sayang, hah hah, yaaa, keluarrrrrrrrrrrrrr. Gio cepat mencabut penisnya, dan spermanya langsung muncrat, banyak sekali, di perut Ima, sebagian bahkan membasahi buah dada Ima. Darah keperawanan Ima sedikit menempel di penisnya. Begitu pula sebagian masih mengalir di sela-sela vagina Ima. Gio langsung ambruk di sisi Ima. Nafas mereka berdua terdengar sangat berat, ngos-ngosan Gio berkata, Mas sayang kamu Ma.

——bersambung——

Author: 

Related Posts